Sinopsis Padiwarada Episode 14 – Part 2 – drakorloverz.com


 Sinopsis Padiwarada Episode 14 – 2

Saran dan Chode dalam perjalanan saat tiba-tiba saja mereka dihentikan oleh para polisi jaga yang memberitahu mereka tentang aksi perampokan yang dilakukan White Tiger di kota barusan. Parahnya lagi, geng itu menyandera Istrinya Saran juga. Saran sontak geram merutuki bajingan itu.

Dia lalu memakai radio si polisi untuk menghubungi Kepala Sheriff. Kepala Sheriff memberitahuanya bahwa geng itu melakukan aksinya dengan cara mengebom sekolahan untuk mengecoh perhatian polisi. Untunglah, para guru dan murid-murid di sana aman dan tidak ada yang terluka. Geng itu pergi ke arah Bandong.

“Jalan itu terbagi beberapa cabang jalan menuju hutan. Kita harus menyebarkan para anggota kita.” Ujar Saran

“Aku sudah mengurus hal itu. Mereka tidak tahu kalau kita sudah semakin dekat dengan markas mereka. Kemungkinan besar kau akan berhadapan dengan mereka.”

Baguslah. Kalau para polisi sedang berada di hutan, maka Saran bisa mengikuti jejak mereka dengan mudah. “Mereka menangkap istriku. Aku akan memburu mereka. Mereka tidak punya hak untuk menyentuh wanitaku!”

Tapi dia bingung, bagaimana ceritanya Rin bisa ada di tempat kejadian? Kepala Sheriff memberitahu bahwa kejadian itu terjadi saat Nuer kebetulan sedang membawa Rin berkendara melewati jalan itu. Nuer terluka dan sekarang dirawat di rumah sakit.

“Nuer bilang kalau Braranee berhasil kabur. Tapi kemudian dia kembali lagi karena…”

“Dia melihat ada orang yang menangis.” Belum sempat Kepala Sheriff ngomong, Saran sudah bisa menduga duluan. Kepala Sheriff sampai kagum mendengarnya. Bagaimana Saran bisa tahu? Mereka benar-benar cocok jadi pasutri.

“Kalau aku menemukannya, akan kucubit pipinya. Dia selalu saja membuatku kehilangan konsentrasi.” Gemas Saran

“Dia itu kekuatanmu. Istri yang baik adalah kekuatan bagi suami. Aku merasa ini akan menjadi pertarungan terakhir antara kita dengan mereka. Mereka menyanderan Khun Braralee. Kali ini kau akan memiliki kekuatan penuh untuk melawan mereka. Hancurkan markas mereka dan bawa kembali para wanita yang mereka tangkap.”

“Baik, Pak Kepala. Kali ini, takdir mereka akan berakhir… White Tiger!” Geram Saran sebelum kemudian memimpin pasukan berkuda menuju hutan.

 

Geng White Tiger menghentikan mobil-mobil mereka di tengah hutan lalu bergotong royong memindahkan beberapa kotak besar hasil rampasan mereka.

Salah satu bandit yang membopong Rin, langsung nafsu melihat kecantikan Rin. Tapi Kao langsung membentaknya dan mengklaim Rin sebagai miliknya. Selesai memindahkan hasil rampasan mereka dan Rin, mereka pun pergi ke markas mereka dengan berkuda.

Di tengah jalan, Saran mendadak berhenti karena melihat sesuatu yang menarik perhatianya. Sebuah kain yang dibentuk secara khusus dan tergantung di sebuah pohon. Sepertinya sengaja di letakkan di sana, tapi Saran yakin itu bukan tanda dari anggota satuan mereka.

Saat mereka meneruskan perjalanan, lagi-lagi mereka mendapati kain yang bentuknya sama. Jelas itu pertanda bagi mereka. Mereka terus melaju dan selama itu pula mereka mendapati beberapa kain yang sama di sepanjang jalan yang mereka lalui.

“Kita terus menemukan benda ini secara berkala, sepertinya ini tanda penunjuk jalan bagi kita. Setiap bagian dibuat dengan usaha sungguh-sungguh, mungkin ini dibuat oleh wanita. Khun Chode, siapa wanita di desa yang ditangkap oleh White Tiger?”

Oh, Chode ingat. Ada seorang cucu warga desa yang ditangkap oleh mereka. Namanya Poo. Saran makin bersemangat mendengarnya. Kalau begitu, mereka pasti akan menemukan markas mereka jika mereka mengikuti petunjuk jalan yang ditunjukkan kain-kain ini.

Setibanya di markas, geng bandit itu langsung bersorak heboh penuh suka cita. Poo yang baru kembali dari hutan, jelas sebal melihat para bandit itu berhasil dengan aksi perampokannya.

“Iiish! Kenapa tidak ada seorang pun yang bisa membunuh mereka, sih?!”

Hasil penulusuran mereka membawa mereka ke sebuah sungai cukup ditakuti warga. Kabarnya, hantu penunggu hutan ini sering kali menakut-nakuti orang hingga mereka terjun ke jurang.

Saran sinis mendengarnya. Kenapa juga orang-orang takut? Justru hantu penunggu hutan itu melindungi mereka. Jangan tertipu.

Saat mengedarkan pandangannya ke tanah, Saran tiba-tiba mendapati ada jejak-jejak kuda di sana. Jelas geng bandit itu tadi melewati area ini.

Saat Rin terbangun, dia mendapati dirinya dalam keadaan terikat dan White Tiger sudah ada di hadapannya. Rin sontak mundur ketakutan, apalagi Kao langsung mendekatinya dengan senyum mesum.

“Jangan! Jauhkan tangan kotormu dariku! Ini tidak berakhir sampai di sini. Saran tidak akan pernah menyerah. Dia pasti akan datang dan membunuhmu!”

“Markasku ini ada di gunung misterius. Tidak akan ada seorang pun yang bisa menemukannya. Sudah berapa bulan dan tahun suamimu memegangi peta? Dia masih belum bisa menemukannya.” Sumbar Kao. “Lupakan saja, karena kau akan tinggal di sini seumur hidupmu. Kau akan tinggal di sini sebagai istriku.”

Kao langsung mendekatinya yang kontan saja membuat Rin refleks bereaksi menendang Kao menjauh darinya. Kesal, Kao sontak melayangkan tangan hendak menampar Rin. Tapi untung saja dia mengurungkan niatnya.

“Kau akan mati sia-sia kalau kau kabur! Aku masih punya waktu untuk mengurusimu selama bertahun-tahun ke depan. Tapi sekarang ini, aku akan mengurusi uang dulu.”

Kao akhirnya pergi meninggalkannya. Rin berusaha teriak-teriak minta tolong, tapi tentu saja tak ada seorang pun yang mendengarnya.

Kebahagiaan para bandit itu tak bertahan lama karena ternyata emas-emas hasil jarahan mereka, kebanyakan emas palsu. Pfft! Uang yang mereka rampok pun tidak banyak. Semua ini tidak akan cukup untuk membuat bom yang mereka butuhkan.

“Kenapa sedikit sekali?” Heran Kao

Salah satu dari mereka menduga kalau ini pasti karena mereka terang-terangan mengumumkan pada seluruh kota kalau mereka mau balas dendam pada Saran, makanya para warga menyembunyikan emas-emas dan uang mereka.

“Saran itu duri ikan terbesar kita. Bunuh saja dia, maka takkan ada seorang pun yang berani. Dia tidak akan hidup lama, aku jamin itu.”

Tim polisi berusaha menyusuri sungai, tapi mereka tidak lagi menemukan potongan kain itu. Chode cemas, tapi Saran masih sangat yakin kalau mereka pasti akan menemukannya lagi.

Tiba-tiba dia sedih memikirkan Rin. Hari ini adalah hari ke-41 mereka terpisah sejak saat Rin harus pergi untuk mengurus ayahnya. Memang mereka pernah beberapa kali bertemu. Tapi setiap kali bertemu, mereka tidak pernah bicara baik-baik, malah pernah tidak bicara sama sekali.

“41 hari yang tidak pernah membuatku bahagia.”

Prihatin, Chode meyakinkan Saran kalau mereka sudah semakin dekat sekarang. Mereka pasti bisa menyelamatkan Rin dari sana.

Mereka lalu melanjutkan pencarian mereka sampai ke sebuah gua. Dan di sana lah, akhirnya mereka menemukan potongan kain itu lagi. Jangan-jangan gua ini menuju lokasi markas geng bandit itu?

Saran mengerti. Saat air naik, maka jalan masuk ke gua ini akan tertutup. Saat air surut, maka orang bisa memasukinya. Poo jelas memberi mereka petunjuk bahwa gua ini adalah jalan masuk ke markas geng bandit itu.

“Peta tidak menyebutkan apapun tentang apa yang ada di balik gunung ini. Aku akan masuk untuk melihatnya.” Ujar Saran

“Eh, tunggu! Terlalu berbahaya karena gua itu sangat gelap. Bagaimana kalau jalan gua itu tak ada ujungnya? Entah apakah kau akan bisa kembali.”

“White Tiger seduah menanti-nanti untuk balas dendam padaku dan Rin ada bersamanya. Aku tidak bisa menunggu. Pergilah untuk memanggil bala bantuan.”

Mereka akhirnya berpisah. Perlahan-lahan, Saran menyusuri gua gelap itu seorang diri, bahkan tanpa penerangan, hingga akhirnya dia menemukan ujung gua yang terletak di balik gunung.

Tempat itu tampak agak seram dan berkabut tebal. Pantas saja tak ada warga yang berani mendekati tempat ini, apalagi tempat ini tidak disebutkan di dalam peta.

Saran terus menelusuri tempat itu hingga akhirnya dia tiba di bagian hutan yang lebih terang. Dengan sangat hati-hati, dia menyusuri jalan setapak hingga akhirnya dia tiba di markas mereka yang sedang sepi.

Walaupun tempat itu sepi, tapi Saran tetap bersiap diri dengan senjatanya. Dia tengah mengendap-endap saat tiba-tiba saja dia mendengar suara tangisan seorang wanita.

“Rin? Rin?” Bisik Saran

“Khun Saran”

Fiuh! Akhirnya dia menemukan Rin. Saran pun langsung celingukan memastikan keadaan aman sebelum kemudian membuka pintu tempat Rin sekap. Begitu melihatnya, Saran langsung mendekapnya erat.

“Akan kucincang mereka kalau sampai terjadi sesuatu padamu!” Geram Saran sebelum kemudian cepat-cepat melepaskan ikatan Rin. Rin sontak menangis lega. Dia hampir saja berpikir untuk bunuh diri kalau Kao sampai menyentuhnya.

“Kita harus pergi dari sini diam-diam. Tunggu kru kita datang untuk melawan mereka.”

Tepat saat mereka beranjak bangkit, pintu terbuka. Poo yang datang membawakan makanan untuk Rin, sontak kaget melihat mereka dan hampir saja berteriak. Tapi untunglah Saran bergerak cepat membungkamnya.

Bersambung ke part 3



Source link

Tinggalkan Balasan